Selasa, 01 Mei 2012

"Seba Baduy", Ritual yang Dipertahankan
Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya (kiri) tukar-menukar bingkisan dengan perwakilan warga Baduy, Jaro Dainah (dua dari kiri) dan Saidi Putra, saat Seba Baduy di Pendopo Kabupaten Lebak di Rangkasbitung, Banten, Jumat (27/4). Upacara adat yang digunakan sebagai ajang silaturahim antara warga Baduy dan pimpinan kabupaten itu diikuti oleh 1.438 warga.

Suku Baduy yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sampai sekarang masih mempertahankan "ritual seba" dan telah dijalankan secara turun-temurun.
Suku yang masih mempertahankan kehidupan tradisional tersebut, setiap tahun melaksanakan ritual itu, yang diawali di Kebupaten Lebak dan dilanjutukan ke Provinsi Banten.
Tahun ini pun, suku tersebut melaksanakan ritual rutin tersebut. Pada Jumat (27/4) malam. sekitar 1.350 warga Baduy, dengan mengenakan pakaian serba hitam, memenuhi Pendopo Kabupaten Lebak untuk mengikuti seba.
Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Daenah menjelaskan, masyarakat Baduy sudah tradisi setiap tahun merayakan seba untuk silatuhrahim dengan kepala daerah yakni Bupati Lebak.
"Perayaan seba tersebut dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Lebak dan dihadiri Kepala Daerah dan pejabat Muspida setempat," katanya.
Seba Baduy merupakan tradisi dari peninggalan nenek moyang yang  bertujuan menjalin silatuhrahim dengan "Bapak Gede" (kepala pemerintah).
Perayaan seba setelah menjalani ritual kawalu selama tiga bulan dan kawasan Baduy Dalam yang tersebar di tiga kampung, yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikawartana tertutup bagi wisatawan. "Kami berharap dengan perayaan seba itu dapat menyejahterakan masyarakat Baduy," ujarnya.
Menurut dia, bagi warga Baduy Dalam mereka berangkat dari kampungnya tidak menggunakan kendaraan tetapi berjalan kaki sepanjang 40 kilometer menuju Rangkasbitung.
Masyarakat Baduy datang ke Pendopo Kabupaten Lebak membawa berbagai hasil bumi seperti pisang, padi, buah-buahan serta tanaman lainnya untuk dipersembahkan kepada Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya.
Keesokan harinya, Sabtu (28/4), sekitar  1.388 warga baduy dalam dan baduy luar mendatangi kantor Gubernur Banten, sebagai rangkaian dari perayaan seba.
Sejak pagi, warga baduy luar dan dalam tersebut mulai memadati halam kantor Gubernur Banten di Jalan Letjen Kyai Sjam’un Kota Serang. Sementara acara "seba baduy" tersebut diselelnggarakan pada Sabtu malam di depan kantor Gubernur Banten.
Ketua adat baduy dalam, Mursyid mengatakan, kegiatan ritual tahunan warga baduy tersebut dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur dan menjalin silaturahim kepada pemerintah Provinsi Banten, setelah warga suku pedalaman di Banten Selatan tersebut melaksanakan panen hasil pertanian.
"Intinya kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah. Kami juga berpesan agar pemerintah bisa melindungi kami dan hutan yang ada di daerah kami," kata Mursyid atau biasa dipanggil ayah Mursyid.
Sebelum melaksanakan seba atau persembahan di pemerintahan Provinsi Banten, warga baduy luar dan baduy dalam, juga melaksanakan kegiatan serupa di kantor Bupati Lebak pada Jumat malam.
Bagi warga baduy dalam dengan pakaian serba putih, untuk mengikuti kegiatan tersebut harus menempuh perjalanan selama dua hari dari perkampungannya di Cibeo Desa Kanekes Kecamatan Leuwi Damar Lebak.
Sedangkan bagi warga suku baduy luar dengan pakaian khas serba hitam. Mereka biasanya berangkat dari kampungnya dengan menumpang kendaraan dari Terminal Ciboleger menuju kantor Bupati Lebak dan dilanjutkan ke Pendopo Gubernur Banten.
Lestarikan
Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengharapkan, agar ritual seba tetap dilestarikan, karena selama merupakan bagian kebudayaan, melalui ritual  tersebut juga warga pedalaman tetep bisa memelihara lingkungan.
"Dalam seba masyarakat Baduy membawa aneka jenis hasil pertanian dan perkebunan, dan ini berarti mereka tetap melakukan trandisi bertani dan berkebun, maka dengan sendirinya lingkungan terjaga," katanya.
Berbagai literatur menyebutkan, seba merupakan sebuah tradisi adat yang harus dilakukan setiap tahunnya bagi warga Baduy sebagai wujud nyata tanda kesetiaan dan dan ketaatan kepada Pemerintah Republik Indonesia, yang dilaksanakan kepada penguasa pemerintahan, dimulai dari Bupati Lebak dan Gubernur Banten.
Seba itu sendiri dapat diartikan sebagai kunjungan resmi yang merupakan peristiwa dalam untaian adat masyarakat Baduy yang dilakukan seusai Kawalu dengan rangkaian acara secara terperinci serta persiapan yang matang.
Seba, juga  harus  berpedoman pada peraturan adat dan orang yang berperan dalam melakukan Seba adalah kepercayaan pu’un, atau pemimpin Suku Badyu, atas nama warganya memberikan laporan kepada pemerintah sekaligus menjembatani komunikasi.
Misinya membawa amanat pu’un, memberikan laporan selama satu tahun didaerahnya, menyampaikan harapan dan menyerahkan hasil bumi dari tanaman ladang yang digarap.
Rombongan yang berangkat tidak ditentukan, tetapi harus jaro sebagai orang kedua pu’un,  tokoh adat kajeroan, tokoh adat panamping, juru baasa, tokoh pemuda dengan maksud agar mengetahui tata caranya dan bisa menjadi generasi penerus dalam melanjutkan tradisi lelehur.
Dalam pelaksanaan seba, kelompok kaum sepuh berperan sebagai pengamat jalannya upacara dan pada saat sedang berlangsung tidak berbasa-basi dalam penyampaian kata-kata tetapi tegas, terbuka, jujur, tepat dan jelas dari permasalahan daerahnya tidak menutupi yang buruk dan tidak memamerkan yang baik.
Sedangkan kelompok pemuda, mempunyai kewajiban sebagai pengemban amanat pusaka untuk tidak menyimpang dari tujuan dan kelompok tokoh adat mengatur tata cara yang bertumpu kepada pakem, keharusan, larangan dan pantangan sejak berangkat dari daerahnya sampai ke tujuan.
Seba, juga merupakan  forum silaturahmi antara warga Baduy dengan pemerintah yang dipimpin Jaro Tanggung Duabelas, sekaligus melaporkan situasi social kemasyarakatan, keamanan dan hasil pertanian serta keadaan lain yang terjadi selama setahun terakhir.
Dalam pelaksanaan seba, dapat dibedakan beberapa kategori, yakni seba gede (seba besar) yaitu apabila hasil panen yang diperoleh selama satu tahun tersebut sangat memuaskan, maka barang bawaan seba dilakukan secara lengkap selain hasil¿hasil pertanian, gula, pisang juga termasuk pelengkap dapur.
Kemudian seba leutik (seba kecil) yakni apabila panen yang dihasilkan kurang memuaskan pelaksanaan seba cukup dengan menyerahkan hasil¿hasil pertanian tanpa dilengkapi dengan Perkara Olah dan peserta seba relatif lebih sedikit.

Jumat, 27 April 2012

Pakar: Budaya Betawi Tidak Akan Punah
Ilustrasi: Pengunjung berpose di depan Ondel-Ondel Betawi dalam acara "Betawi Punye Gaye : Inspirasi Kebudayaan Jakarta Asli" di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (19/4/2012) malam. Pameran yang menampilkan beragam seni budaya Betawi ini akan berlangsung hingga 29 April mendatang.

JAKARTA--Antropolog Universitas Indonesia dan Pakar Kebudayaan Betawi Prof Dr Yasmine Z Shahab mengatakan, kebudayaan Betawi tidak akan punah karena saat ini orang Betawi sudah sangat sadar akan identitasnya.
"Budaya Betawi tidak akan hilang tapi yang pasti berubah, muncul dengan wajah baru tapi tidak menghilangkan yang asli," kata Prof Yasmine pada Bincang-bincang "Betawi Punya Gaye, Inspirasi Warisan Budaya Jakarta Asli" di Jakarta, Rabu.
Ia memberikan contoh sederhana, seperti Lenong yang merupakan kesenian Betawi  saat ini muncul dengan wajah baru, tapi yang asli tetap ada.
Meskipun berubah, lenong tetap ada dan orang pasti akan menggali lagi kesenian lenong yang asli, ujar Yasmine.
Yasmine menyebutkan, budaya Betawi sangat dinamis dan berubah lebih cepat dibandingkan kebudayaan lain karena posisinya berada di Jakarta, pusat pemerintahan dan berbaurnya berbagai suku serta budaya.
Selain orang Betawi mulai sadar dengan identitasnya, menurut Yasmine, budaya Betawi banyak yang dijadikan komoditas dan saat ini diuntungkan lagi dengan adanya politik etnik.
"Jadi tidak usah takut budaya Betawi akan hilang yang akan adalah berubah. Kalau orang Betawi khawatir berubahnya terlalu jauh, mereka harus berperan melestarikan budaya yang asli," tambah Yasmine.
Lebih lanjut Yasmine mengatakan, yang ia lihat perubahan budaya Betawi hanya di sektor publik sementara di privat mereka masih mempertahankan budaya Betawi asli. "Di sektor privat, misalnya kita masuk ke keluarga  Betawi, mereka masih mempertahankan budaya asli," tambah dia.

Rabu, 25 April 2012

Gambang Memiliki Ratusan Gending
Ilustrasi: I Nyoman Suarsana (kiri) dan I Nyoman Suwida berduet memainkan gangsa, bagian dari gamelan Bali, dalam pertunjukan gitaris I Wayan Balawan, dalam Other Minds Music Festival 2011, 4 Maret waktu setempat

DENPASAR--Gamelan gambang, salah satu instrumen musik tradisional Bali yang diwarisi masyarakat Bali secara turun temurun memiliki ratusan gending (pupuh), namun sebagian besar tanpa disertai teks.
"Gending-gending gambang yang lebih populer dengan sekar alit (macepat) hingga kini masih lestari dalam kehidupan masyarakat Bali, namun keberadaannya semakin langka" kata seniman andal Bali, I Wayan Sinti MA (69) di Denpasar, Selasa.
Mantan dosen pada University of Washington School of Musik Amerika Serikat yang juga penulis buku Gambang, cikal bakal karawitan Bali itu menambahkan, pihaknya pernah mengadakan penelitian tentang gamelan gambang di bererapat tempat di daerah ini.
Penelitian itu dilakukan di pusat dokumentasi Kota Denpasar, Fakultas Sastra Universitas Udayana, Desa Tenganan pegringsingan, Kabupaten Karangasem, Geria Taman Sari Sanur, Kota Denpasar, Desa Tangkas, Klungkung, serta Kerobokan dan Banjar Sempidi Tengah Kabupaten Badung.
Selain itu juga melakukan kegiatan yang sama di Banjar Gunung Pende Tumbak Bayu, Kabupaten Badung dan Padang Mulia, Kabupaten Buleleng, Bali utara.
Sinti menjelaskan, hasil penelitian di berbagai tempat itu menunjukkan, kesenian kuno yang disakralkan itu telah ada sejak abad XI masa pemerintahan Prabu Erlangga, raja yang memerintah Bali dan Jawa Timur selama kurun waktu 1019-1042.
"Seni budaya seperti seni sastra, seni bangunan dan seni kerawitan pada masa pemerintahannya berkembang pesat," tutur Wayan Sinti.
Demikian pula pembangunan bidang kesusastraan seperti candi juga berlangsung dari masa ke masa, seperti adanya banyak bangunan candi yang kokoh hingga sekarang di Jawa Timur.
"Begitu eratnya hubungan Bali dengan Jawa Timur dari masa ke masa selama pemerintahan Prabu Erlangga, tidak tertutup kemungkinan seniman Bali diboyong ke Jatim untuk membangun candi dan mengembangkan jenis kesenian lainnya," ujar Wayan Sinti.
Hal itu dapat dibandingkan dengan pembangunan Pura Semeru Agung di kaki Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jatim menjelang abad ke-20.
Demikian pula pembangunan pura Gunung Salak di Bogor pada abad ke-21 yang secara umum keduanya diprakarsai seniman dari Bali, ujar Wayan Sinti.